AKHIR BAHAGIA SEBUAH SENGKETA

“Kebahagian bagi hakim adalah manakala dapat mendamaikan dua pihak yang bersengketa.

 

Untaian kalimat diatas kiranya dapat mewakili perasaan seluruh hakim, siapapun itu dan dimanapun dirinya bertugas. Hal yang sama juga turut dirasakan oleh Bpk. Drs. H. Mukhtar, M.H, hakim yang juga menjabat sebagai Ketua Pengadilan Agama Kelas IB Kupang. Usaha pantang menyerah dengan menggunakan berbagai macam pendekatan akhirnya beliau dapat mengantar mantan suami isteri berdamai mengakhiri sengketa pembagian harta gono gini yang sudah memasuki tahap eksekusi.

Perjalanan perkara dimulai sejak perkara didaftarkan oleh mantan isteri pada 20 Agustus 2014 dengan register 56/Pdt.G/2014/PA.KP.  7 bulan berlalu tepatnya tanggal 23 Maret 2015, Majelis Hakim Pengadilan Agama Kupang yang memeriksa dan mengadili perkara tersebut menjatuhkan putusannya yang intinya membagi dua harta-harta yang telah diperoleh semasa perkawinan. Tidak puas dengan putusan yang dijatuhkan, sang mantan suami pun melakukan upaya banding dimana Majelis Hakim banding dengan putusannya nomor perkara 04/Pdt.G/2015/PTA.KP tertanggal 10 Juni 2015 menjatuhkan putusan yang relatif sejalan dengan putusan Majelis Hakim tingkat pertama.

Beberapa waktu berselang setelah putusan PTA Kupang memiliki kekuatan hukum tetap, mantan isteri pun mengajukan permohonan eksekusi atas harta-harta yang telah ditetapkan sebagai harta bersama dengan mantan suaminya. Terhadap permohonan mantan isteri tersebut, Ketua Pengadilan Agama Kupang melangsungkan beberapa kali proses aanmaning. Proses pertama berlangsung tanggal 19 September 2016 yang dipimpin oleh Ketua PA Kupang Drs. Muhammad Camuda, M.H. proses aanmaning pertama berakhir tanpa adanya titik temu. Seiring berjalannya waktu dilakukan proses aanmaning kedua pada tanggal 3 Oktober 2016 yang dipimpin oleh Drs. H. Mukhtar, M.H selaku Ketua PA Kupang yang menggantikan Drs. Muhammad Camuda, M.H. dalam proses aanmaning kedua sedikit menemui titik terang sehingga diagendakan proses aanmaning lanjutan pada tanggal 20 Oktober 2016. Setelah proses perdamaian dengan tawar menawar yang alot, pada akhirnya pada proses aanmaning ketiga inilah kedua belah pihak bersepakat mengakhiri sengketa dengan pemberian ganti kompensasi dari mantan suami ke mantan isetri terhadap harta-harta bersama yang telah ditetapkan dalam amar putusan tingkat pertama.

Kesabaran dan ketelatenan nyata terbukti menjadi kunci sukses dari lahirnya perdamaian kedua belah pihak yang dikukuhkan dalam akta perdamaian tertanggal 20 Oktober 2016. Setidaknya ada beberapa pelajaran yang dapat diambil dari kasus ini. Pertama, tidak ada sengketa yang tidak memiliki jalan keluar. Kedua, gigih berusaha dengan berbekal kesabaran dan ketelatenan. Ketiga, selalu berfikir positif dan obyektif ketika menangani sebuah kasus. Keempat, tetap berusaha ikhlas dan tawakkal sehingga Allah SWT dapat membukakan hidayah dan taufiqnya baik kepada para pihak yang bersengketa lebih-lebih kepada hakim yang menangani perkara tersebut. Wassalam. RI_5

Berita PA

Jam Pelayanan

Kami melayani masyarakat selama lebih kurang 8 jam

  • Senin-Kamis: 08.00 sampai 16.30
  • Jumat: 07.30 sampai 16.30
  • Sabtu dan Minggu: Libur

Pengunjung Web

Hari ini 11

Kemarin 24

Minggu ini 48

Bulan ini 251

Semuanya 1198

Kubik-Rubik Joomla! Extensions

Link Online

Go to top

Copyright @ 2017 Pengadilan Agama Kupang

Nusa Tenggara Timur